cyber-balkanization

pecahnya internet global menjadi wilayah-wilayah yang saling tertutup

cyber-balkanization
I

Pernahkah kita membayangkan internet sebagai sebuah perpustakaan raksasa tanpa batas? Dulu, di awal tahun 2000-an, ada sebuah janji manis yang digaungkan oleh para perintis teknologi. Janji bahwa internet akan menjadi global village atau desa global. Tempat di mana kita bisa bertukar pikiran dengan orang dari benua mana pun tanpa sekat. Tapi, mari kita duduk dan jujur sejenak. Kapan terakhir kali teman-teman benar-benar berdiskusi dengan nyaman bersama orang yang pandangan politik atau seleranya bertolak belakang di media sosial?

Mungkin jawabannya: jarang sekali, atau malah tidak pernah. Kita mengira kita sedang terhubung dengan jutaan manusia dengan latar belakang yang beragam. Padahal, tanpa sadar, saat menatap layar ponsel, kita mungkin hanya sedang mengobrol dengan pantulan cermin kita sendiri. Janji tentang desa global itu kini terasa seperti mitos, digantikan oleh realitas baru yang diam-diam memenjarakan kita.

II

Untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada layar kita, kita perlu meminjam sedikit pelajaran dari buku sejarah. Di awal abad ke-20, semenanjung Balkan di Eropa pecah menjadi negara-negara kecil yang saling bermusuhan dan mengisolasi diri. Fenomena fragmentasi ini melahirkan istilah sejarah yang disebut balkanization. Nah, para ahli sosiologi dan ilmu komputer sekarang melihat pola yang sama persis terjadi di dunia maya. Mereka menyebut fenomena ini cyber-balkanization.

Mengapa kita bisa terpecah belah begini? Jawabannya ada di dalam kepala kita sendiri. Secara psikologis, otak manusia didesain untuk menyukai kesamaan. Dalam ilmu psikologi evolusioner, ada konsep dasar yang disebut homophily. Secara sederhana, kita merasa lebih aman dan mengurangi beban kognitif saat berkumpul dengan orang yang sepemikiran.

Dulu, batasan fisik membuat kita mau tidak mau harus berinteraksi dengan tetangga yang mungkin opini politiknya menyebalkan. Kita belajar toleransi dari gesekan langsung. Namun, di internet, kita memegang kendali bak seorang dewa. Tombol block, mute, dan unfollow adalah senjata andalan kita untuk menyingkirkan opini yang membuat kita tidak nyaman. Kita mulai membangun tembok kita sendiri.

III

Masalahnya mulai meruncing ketika kecenderungan psikologis alami kita ini "dikawinkan" dengan teknologi modern. Algoritma media sosial dirancang oleh barisan ahli saraf dan teknisi machine learning bukan untuk membuat kita menjadi lebih bijak. Tujuan utama algoritma adalah retensi—menahan perhatian kita di depan layar selama mungkin. Dan tebak apa pemicu psikologis yang paling ampuh untuk menahan perhatian? Emosi marah dan validasi diri. Algoritma akan terus menyuapi kita dengan konten yang mengonfirmasi apa yang sudah kita yakini (confirmation bias).

Tapi, tunggu dulu. Cerita ini tidak berhenti pada urusan linimasa media sosial kita. Pemisahan ini mulai terjadi di tingkat infrastruktur keras, atau di level hard science dari arsitektur internet itu sendiri. Pernahkah teman-teman mendengar istilah splinternet?

Negara-negara besar kini mulai membangun tembok digital raksasa mereka. Tiongkok sudah lama memiliki Great Firewall, memblokir ekosistem luar agar warganya hanya menggunakan platform lokal. Rusia sedang menguji coba "internet berdaulat" (RuNet) yang bisa diputus dari jaringan global kapan saja. Negara-negara lain pun mulai membuat regulasi data yang mengunci arus informasi.

Pertanyaannya sekarang: jika kabel-kabel dan peladen (server) secara fisik mulai dipisah oleh negara, dan pikiran kita terus menerus dikotakkan oleh algoritma, apa dampaknya bagi cara umat manusia memahami realitas di masa depan?

IV

Inilah realitas pahit yang harus kita telan bersama: cyber-balkanization tidak sekadar menciptakan "ruang gema" atau echo chamber. Jauh lebih menakutkan dari itu, fenomena ini sedang mengoyak realitas objektif kita menjadi semesta-semesta paralel yang tidak saling bersentuhan.

Ketika kita hidup berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun di dalam wilayah digital yang tertutup, otak kita mengalami apa yang disebut ilusi konsensus (illusion of consensus). Jaringan saraf di otak kita ditipu secara sistematis untuk percaya bahwa "semua orang berpikir seperti saya" atau "semua orang membenci kelompok X". Padahal, "semua orang" yang kita maksud hanyalah algoritma yang menyajikan 500 akun dengan opini kloningan di linimasa kita.

Inilah penjelasan ilmiah mengapa perdebatan di internet saat ini terasa sangat buntu dan melelahkan. Saat berdebat di kolom komentar, kita bukan lagi dua manusia yang sedang berdiskusi tentang fakta yang sama dengan sudut pandang berbeda. Tidak. Kita adalah dua penduduk dari dua semesta digital yang sama sekali berbeda, dengan membawa set "fakta buatan" yang juga berbeda. Internet kini tidak lagi bertugas menghubungkan umat manusia; ia sedang sibuk menyortir kita ke dalam suku-suku digital yang siap berperang satu sama lain.

V

Tentu saja, menyadari betapa masifnya perpecahan ini bisa membuat kita merasa kewalahan, atau bahkan sedikit pesimis. Rasanya mustahil melawan infrastruktur negara atau algoritma triliunan dolar. Tapi, di sinilah letak keindahan dan kekuatan akal budi manusia. Memahami cara kerja saraf kita dan cara kerja cyber-balkanization adalah langkah pertama yang krusial untuk melepaskan diri dari perangkapnya.

Kita mungkin tidak punya kuasa untuk meruntuhkan firewall negara atau menulis ulang algoritma raksasa teknologi. Tapi, kita punya kendali penuh atas jempol dan empati kita.

Sesekali, cobalah secara sadar melangkah keluar dari zona nyaman digital teman-teman. Bacalah artikel dari portal berita yang jarang kita buka. Dengarkan opini dari mereka yang berseberangan—bukan untuk mencari celah dan membalasnya dengan makian, tapi sekadar untuk duduk diam dan memahami dari mana rasa takut atau harapan mereka berasal.

Menjadi pemikir kritis di era modern bukan berarti kita harus selalu memenangkan perdebatan. Terkadang, puncak dari berpikir kritis adalah keberanian untuk mengakui bahwa realitas yang kita lihat di layar, betapapun nyamannya, hanyalah satu pecahan kecil dari dunia yang maha luas. Mari kita rawat rasa ingin tahu kita, dan pelan-pelan, mari kita bangun kembali jembatan yang terputus itu, dimulai dari layar kita sendiri.